1. Salah Menentukan Sistem Sewa untuk Kebutuhan Proyek
Salah satu kesalahan paling umum di proyek Surabaya dan Sidoarjo adalah memilih sistem sewa scaffolding tanpa mempertimbangkan durasi pekerjaan secara realistis.
Banyak proyek menggunakan sistem harian karena terlihat murah di awal. Namun pada praktiknya:
-
Proyek sering tertunda akibat cuaca atau progres bertahap
-
Scaffolding tetap terpasang meski pekerjaan melambat
Akibatnya, biaya terus berjalan tanpa disadari. Kesalahan ini sering baru terasa saat anggaran mulai tertekan di akhir proyek.
2. Mengabaikan Perhitungan Jumlah Set yang Akurat
Di lapangan, sering ditemui dua kondisi ekstrem:
-
Scaffolding menumpuk dan tidak terpakai
-
Atau jumlah set kurang sehingga pekerjaan terhenti
Kedua kondisi ini sama-sama merugikan. Scaffolding yang menganggur tetap menjadi beban biaya, sementara kekurangan alat menurunkan produktivitas tukang dan memperpanjang durasi proyek.
3. Lokasi Gudang Penyedia yang Terlalu Jauh
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menyewa scaffolding dari penyedia yang gudangnya berada jauh dari lokasi proyek.
Di wilayah seperti Rungkut, Waru, atau kawasan industri Sidoarjo, jarak gudang yang jauh dapat menyebabkan:
-
Biaya transportasi membengkak
-
Waktu pengiriman lebih lama
-
Mobilisasi alat tidak efisien
Masalah ini sering luput dari perhitungan awal, tetapi berdampak langsung pada biaya logistik proyek.
4. Penggunaan Scaffolding Tidak Sesuai Kebutuhan Pekerjaan
Tidak semua pekerjaan membutuhkan konfigurasi scaffolding yang sama. Namun di lapangan, scaffolding sering digunakan secara “standar” untuk semua jenis pekerjaan.
Akibatnya:
-
Pekerjaan menjadi kurang efisien
-
Perlu bongkar-pasang berulang
-
Risiko kesalahan teknis meningkat
Kesalahan ini terlihat kecil, tetapi jika terjadi berulang, dampaknya signifikan terhadap waktu dan biaya proyek.
5. Kurangnya Pengawasan Kondisi dan Kelayakan Alat
Scaffolding yang bengkok, terkena semen, atau kehilangan komponen kecil seperti joint pin sering dianggap masih layak digunakan.
Padahal kondisi alat yang kurang prima dapat menyebabkan:
-
Progres kerja melambat
-
Risiko kecelakaan kerja meningkat
-
Pekerjaan harus dihentikan sementara
Semua ini berujung pada biaya tambahan yang tidak direncanakan sejak awal.
6. Minimnya Koordinasi antara Perencana dan Lapangan
Di beberapa proyek konstruksi, perencanaan scaffolding tidak selalu sejalan dengan kondisi lapangan. Perubahan posisi atau kebutuhan alat sering dilakukan tanpa koordinasi yang matang.
Akibatnya:
-
Scaffolding harus disesuaikan ulang
-
Waktu kerja terbuang
-
Efisiensi proyek menurun
Kesalahan koordinasi ini sering terjadi di proyek skala menengah hingga besar di kawasan Surabaya dan Sidoarjo.
Dampak Nyata di Proyek Surabaya & Sidoarjo
Jika dikumpulkan, kesalahan kecil penggunaan scaffolding dapat menyebabkan:
-
Biaya proyek membengkak secara perlahan
-
Jadwal pekerjaan molor
-
Produktivitas tenaga kerja menurun
-
Tekanan anggaran di tahap akhir proyek
Masalah ini bukan semata soal harga scaffolding, melainkan cara perencanaan dan pengelolaannya.
Kesimpulan
Kesalahan penggunaan scaffolding di proyek Surabaya dan Sidoarjo sering kali terlihat sepele, namun dampaknya besar terhadap biaya dan kelancaran pekerjaan. Mulai dari pemilihan sistem sewa, perhitungan jumlah set, hingga logistik dan pengawasan alat—semuanya berperan penting dalam menjaga efisiensi proyek.
Dengan perencanaan scaffolding yang lebih tepat dan realistis, banyak proyek sebenarnya dapat berjalan lebih lancar tanpa harus menambah anggaran di tengah jalan.